Setiap kaki melangkah, setiap mata menatap, disetiap sudut, disemua ruang, kita bertemu dengan teks. Pertemuan yang kini lebih terkesan dipaksakan. Kita dipaksa tunduk oleh banyak teks, dipaksa mengikuti dan membenarkan, tanpa kesempatan untuk kita berdialog, menggunakan akal sehat.
Secara sederhana kita bisa definisikan teks sebagai sesuatu yang terlihat, mengandung pesan dan memiliki nilai guna secara materi. Dalam definisi yang lebih liar, teks tidak melulu diartikan sebagai rangkaian kata atau tulisan. Sebuah benda bisa juga dikatakan sebagai teks, raut muka, kerlingan mata juga bisa menjadi sebuah teks. Begitupun uang, jabatan, medali dan sejenisnya.
Kita hidup dalam dunia yang penuh dengan teks. Teks-teks yang dibuat oleh mereka yang memiliki visi. Teks-teks yang dikuasai oleh mereka yang memiliki misi dan kepentingan untuk melakukan dominasi.
Dunia yang penuh dengan teks, kini semakin kokoh dan melupakan banyak konteks. Banyak teks yang menerobos tidak pada konteksnya. Membuat konstelasi sendiri. Tidak memperdulikan norma dan kesantunan, adab.
Seperti apa contohnya?
Seperti anda yang membaca tulisan ini, dimana anda dipaksa untuk membaca padahal tulisan ini belum tentu penting. Seperti anda merasa punya ketergantungan pada Facebook. Seperti anda merasa harus berkerja setiap hari jika anda ingin kaya. Seperti diwaktu malam anda merasa punya kewajiban untuk menonton televisi. Seperti anda ketika merasa terpaksa menyembah Tuhan hanya agar terlihat soleh.
Dunia tanpa teks.. seperti apa dan haruskah anda? Mungkin kita harus mati dulu untuk mengetahuinya. Untuk hidup dalam dunia dimana kita memberi, menerima dan juga disaat bersamaan dengan bebas menciptakan makna!
Deni Andriana

This blog contains various articles of my personal work on my study of culture, mass media, politics, business, technology, blogging and other things that can be observed.
Ada kalanya sesuatu itu harus dipertanyakan.. ada saatnya memang harus juga diperlihatkan.. dinikmati, lalu dicermati.. setelah itu baru dinilai..

Cita
January 26th, 2012 at 19:38
kacau
hasannuh
January 26th, 2012 at 20:52
Waduh seliwat ana baca bukan “Dunia tanpa teks” tapi “Dunia tanpa seks” … beda satu huruf aja, bisa galau….
ianx
January 26th, 2012 at 21:35
auw… kang sanu ini menggalau sekaliii heuuu
gmn low dunia tanpa wanita y? hehehe semakin galau dehh ah
Aneka HOT
January 26th, 2012 at 21:41
Kalawo memang yakin ada teks, mohon ini dibaca gan, bisa nggak ya?
“SUMPAH, AKU TIDAK DAPAT MEMBACA TULISAN INI”.
Wandi Sukoharjo
January 26th, 2012 at 21:46
Dunia tanpa teks? Pasti semuwa kayak kuburan ya bos. “Makan bebek goreng tanpa b” jadinya lutu
sawali tuhusetya
January 26th, 2012 at 21:57
postingan yang menarik, mas deni. konon, teks sesungguhnya tak akan pernah ada tanpa konteks. dalam wacana keseharian, teks yang kahir tanpa konteks akan menimbulkan ketaksaan yang pada akhirnya hanya melahirkan retorika belaka.
kang sule
January 26th, 2012 at 23:11
berhubung ada banner gede banget tuh “ukuran penis” lagi judulnya, jadi ga konsen baca artikel ini. he he. sama kaya kang hasannuh diatas, teks jadi kebaca seks uy.
LPPL MATARAM
January 27th, 2012 at 09:41
Apa jadinya yak?
masbadar
January 27th, 2012 at 10:15
World dan Word, bedanya cuma huruf “L”, the Language it is the bridge that connected them, that filled them, that gave ‘em life. Beacouse World and Word are belong to the “Lord” who created ‘em.
achoey el haris
January 27th, 2012 at 10:16
saya pun akhirnya membaca dan membaca saja
terlebih lama tak kemari
Deni Andriana
January 27th, 2012 at 13:03
@ Cita : sangat kacau
@ hassanuh : waduh bisa bangkrut dunia kalo tanpa seks mah kang.. haha
@ ianx : dunia tanpa wanita bagaikan minum gelas tanpa air :p hampa… hahaha
Deni Andriana
January 27th, 2012 at 13:06
@ Aneka Hot : hehe.. tanpa teks berarti tanpa membaca hehe
)
@ Wandi : haha… kuburan juga penuh dengan teks ya mas hehe
@ Sawali : betul sekali mas, skrg banyak teks yang dikonsumsi tidak pada konteksnya..
@Kang Sule : haha.. banner itu mah bonus kang
Deni Andriana
January 27th, 2012 at 13:10
@ LPPL Mataram : ga jadi apa2 bos hehe
@ Masbadar : Tuhan juga butuh teks untuk menyatakan dirinya sebagai Tuhan ya kang
@ Achoey : hehe.. selamat datang kembali kang