Setiap kaki melangkah, setiap mata menatap, disetiap sudut, disemua ruang, kita bertemu dengan teks. Pertemuan yang kini lebih terkesan dipaksakan. Kita dipaksa tunduk oleh banyak teks, dipaksa mengikuti dan membenarkan, tanpa kesempatan untuk kita berdialog, menggunakan akal sehat.

Secara sederhana kita bisa definisikan teks sebagai sesuatu yang terlihat, mengandung pesan dan memiliki nilai guna secara materi. Dalam definisi yang lebih liar, teks tidak melulu diartikan sebagai rangkaian kata atau tulisan. Sebuah benda bisa juga dikatakan sebagai teks, raut muka, kerlingan mata juga bisa menjadi sebuah teks. Begitupun uang, jabatan, medali dan sejenisnya.

Kita hidup dalam dunia yang penuh dengan teks. Teks-teks yang dibuat oleh mereka yang memiliki visi. Teks-teks yang dikuasai oleh mereka yang memiliki misi dan kepentingan untuk melakukan dominasi.

Dunia yang penuh dengan teks, kini semakin kokoh dan melupakan banyak konteks. Banyak teks yang menerobos tidak pada konteksnya. Membuat konstelasi sendiri. Tidak memperdulikan norma dan kesantunan, adab.

Seperti apa contohnya?

Seperti anda yang membaca tulisan ini, dimana anda dipaksa untuk membaca padahal tulisan ini belum tentu penting. Seperti anda merasa punya ketergantungan pada Facebook. Seperti anda merasa harus berkerja setiap hari jika anda ingin kaya. Seperti diwaktu malam anda merasa punya kewajiban untuk menonton televisi. Seperti anda ketika merasa terpaksa menyembah Tuhan hanya agar terlihat soleh.

Dunia tanpa teks.. seperti apa dan haruskah anda? Mungkin kita harus mati dulu untuk mengetahuinya. Untuk hidup dalam dunia dimana kita memberi, menerima dan juga disaat bersamaan dengan bebas menciptakan makna!

Deni Andriana

Komentar via Facebook