Sensasi Politik itulah yang saya tangkap dari peluncuran Situs www.srimulyani.net – sebuah situs yang mengatasnamakan mantan menteri keuangan RI Sri Mulyani. Pengelolanya menegaskan, situs ini bukanlah situs pribadi Sri Mulyani. Situs ini diluncurkan dan dikelola oleh Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D), sebuah organisasi yang digawangi oleh Todung Mulya Lubis. P2D sendiri tampak asing dan sepertinya ingin melakukan branding dengan project yang direstui oleh Sri Mulyani, yang rela namanya dicatut sebagai nama situs ini.

Ya, sensasi politik (istilah yang mungkin masih asing), sebuah sensasi yang dibuat untuk tujuan politik tertentu. Dengan jargon Merawat Republik, Memastikan Keadilan – situs ini menurut pembuatnya dibuat dalam rangka kampanye untuk memperkuat etika publik. “Situs srimulyani.net adalah suatu bagian dari kampanye untuk memperkuat etika publik, Sri Mulyani tidak terlibat dalam pembuatan web ini. Kami menelepon dia (minta izin) sebagai bentuk etika publik,” ujar Todung pada peluncuran situs ini di Jakarta 30 September 2010 kemarin.

P2D menganggap Sri Mulyani sebagai ikon etika publik karena ia telah dengan tegas menolak kekuasaan. Srimulyani.net diinspirasikan oleh integritas Sri Mulyani yang dengan kukuh membela kepentingan publik dari rongrongan politik koruptif elite kekuasaan. Demikian yang ditulis Kompas mengutip keterangan Todung.

Jelas dari statmennya, P2D mengesampingkan Skandal Bank Century yang belum terselesaikan, dimana nama Sri Mulyani terlibat didalamnya. Kasus yang pianjingeun (kalo dalam bahasa sunda kasarnya). Kasus memuakan yang telah merampok uang negara demikian besarnya, yang sempat super heboh beberapa bulan lalu tapi anjing-anjing kekuasaan menenggelamkannya sebelum semuanya tuntas. (maaf saya terlalu kasar, walau terasa sangat lembut bahasanya)

Sensasi politik (political sensation). Hanya beberapa hari, situs www.srimulyani.net ini diperkenalkan. Berbagai spekulasi pun muncul. Ada yang bilang ini adalah dalam rangka pencalonan Sri Mulyani menjadi calon presiden pada Pemilu 2014 nanti, ada juga yang bilang sebagai sarana promosi kelompok tertentu, dsb. Tapi saya hanya bilang, ini adalah sesuatu yang tidak penting untuk ditanggapi secara berlebihan, ini hanya kerjaan dari mereka yang hanya cari sensasi. Situs ini selain digawangi oleh Todung, juga melibatkan orang-orang yang cukup melintang di dunia jurnalism dan politik diantaranya Wimar Witoelar, Bagus Takwin, Rosiana Silalahi dll.

Etika publik yang diusung sebagai isu sentral pada situs tersebut berlawanan dengan etika politik dan etika berbangsa dan bernegara yang sebenar-benarnya. Jika pun etika menjadi nilai yang ‘benar’ maka Kasus Century harusnya menjadi titik fokus yang harus diselesaikan! Nama Sri Mulyani tidak etis dijadikan ikon etika publik saat yang bersangkutan masih terkait dengan kasus besar di republik ini.

Deni Andriana

Komentar via Facebook