“Ini adalah pembalasan pada kalian… sekutu-sekutu setan… membunuh… menghukum mati mujahidin. Kami siap mati untuk agama yang mulia ini,” itulah isi surat yang ditemukan Polisi pada pelaku bom bunuh diri yang meledakan bom rakitan dengan sepeda onthel pada Kamis 30 September 2010 di dekat Pos Lantas Pasar Sumber Arta, Kalimalang, Jakarta Timur. Surat dan isinya yang menurut pendapat banyak pengamat dianggap janggal, sejanggal aksi nekat sang pelaku yang kini masih hidup setelah sebelumnya diobati polisi.

Aksi pria yang mengaku bernama Ahmad Bin Abu Ali itu memang cukup heboh, bahkan ada yang menyebut teroris ‘single fighter.’ Konon, Ia bermaksud melakukan bom bunuh diri dengan menabrakan sepeda onthel berisikan bom yang dikendarainya kepada polisi lalulintas bernama AKP Heri yang sedang mengatur lalu lintas dilokasi, namun takdir berkata lain, bom tersebut meledak sebelum menghampiri target. AKP Heri yang berada di lokasi pun selamat. Sedangkan si pelaku yang masih diberi kesempatan oleh Allah untuk hidup, kini harus siap mempertanggungjawabkan perbuatan nekatnya di dunia.

Perbuatan nekat dan konyol yang mengatasnamakan Agama Islam.  Padahal Islam melarang membunuh orang yang tidak bersalah, dan membunuh AKP Heri yang sedang menjalankan tugasnya mengatur lalulintas adalah sesuatu yang keliru. Jadi siapa yang sekutu setan? Polisi dan aparat yang menghukum mati teroris atau teroris yang mengatasnamakan Islam yang membunuh orang tidak bersalah?

Apapun inti pesan sebenarnya dari si pelaku dalam aksinya dan mengenai kebenaran isi suratnya itu, hanya dia dan Allah yang tahu. Polisi dikabarkan akan segera menginterogasi pelaku selepas yang bersangkutan benar-benar sembuh setelah mendapatkan perawatan. Tapi, apapun jawaban yang sebenarnya, pastinya sekali lagi hanya dia dan Allah yang tahu.

Bom Sepeda Onthel di Kalimalang Membawa Pesan Lingkungan – ya, saya pribadi melihat telepas motif sebenarnya si pelaku, ada hal menarik yang bisa kita tangkap dari aksi bom sepeda ontel itu. Pesan tentang ajakan untuk bersepeda. Sepeda yang kini sudah sangat jarang digunakan masyarakat terutama di perkotaan. Padahal dengan menggunakan sepeda pastinya akan membuat kota lebih nyaman dan tentu saja akan mengurangi polusi udara.

Lebih jauh, dalam konteks yang lebih luas, aksi ini bisa diinterprestasi sebagai himbauan untuk menjaga lingkungan, termasuk sungai, mengingat si pelaku beraksi di dekat Kalimalang, sebuah sungai yang airnya kini sudah menghitam akibat pencemaran yang dilakukan manusia. ‘Bom’ dengan ledakan besar dari alam yang marah, bernama banjir atau ledakan gas metana dari sampah-sampah pastinya akan jauh lebih besar effekbnya ketimbang bom sepeda onthel ala Ahmad. Dan ini, bisa mempertegas peringatan terhadap topik Jakarta Tenggelam.

Multi pesan! Sebuah aksi atau tindakan-tindakan terorisme harusnya dibaca melalui kacamata yang lebih luas, tidak hanya menjuruskan atau menyempitkan kesimpulan hanya pada aksi jihad, separatis, ataupun implementasi ajaran agama tertentu, tapi harus dibaca juga hal-hal eksplisit yang mengiringinya. Dengan sudut pandang yang lebih luas, gerakan teroris dapat dipelajari secara lebih utuh. Begitupun untuk menangkap para pelakunya, dengan persfektif yang lebih luas, saya yakin mereka akan lebih mudah dideteksi.

Deni Andriana

Komentar via Facebook