Kasus penusukan terhadap Pendeta ST Sihombing, penggerja di Gereja HKBP Ciketing, Bekasi, Minggu (12/9/2010) pagi terjadi saat ia sedang berjalan kaki ketika hendak memimpin ibadah di HKBP Ciketing, Bekasi. Beberapa saat sebelum tiba di gereja, 8 pengendara sepeda motor datang dan menusuk perut kanan Sihombing. Kini sang pendeta sedang dalam kondisi kritis dan mendapatkan perawatan di RS Mitra Keluarga Bekasi Timur. Saat kejadian, Pendeta Luspida yang bermasuk ikut menolong Pendeta Sihombing juga ikut dipukul dari belakang yang menyebabkan yang bersangkutan luka-luka.
Saya turut berduka atas apa yang menimpa sang pendeta dan turut mengutuk aksi kekerasan tersebut. Namun, saya sangat menyayangkan adanya gelagatĀ dan sikap terlalu over dari (narasi) media massa dan sejumlah orang termasuk pengacara dan pakar hukum dalam menanggapi dan mengomentari peristiwa ini sebelum polisi berhasil tuntas memenyelidiki menangkapĀ dan pelakunya.
Ya… saya menangkap ada sejumlah komentar yang bisa bernada provokasi, salah satunya seperti statmen dari Pengacara senior, Todung Mulya Lubis, “Penusukan Pendeta Sihombing nampaknya bukan tindak kriminal biasa. Ini teror terhadap hak beribadah. Tindakan ini menggergaji pilar kemajemukan bangsa,” kata Todung dalam akun Twitternya seperti dikutip Kompas.com.
Saya berharap semua pihak bersikap hati-hati dalam memberikan statmen dalam kasus seperti ini, agar tidak terjadi provokasi terlebih yang mengarah pada konflik atau sentimen antar umat beragama di negeri ini. Biarlah aparat berwajib (polisi) menuntaskan dulu penyelidikan dan menangkap pelaku tindak kekerasan ini dan mengorek apa motif sebenarnya.
Deni Andriana
bayu
September 13th, 2010 at 09:30
tindak kriminal perlu dikaji sejauh mana motifnya…
apakah benar2 murni tndak kriminal atau ada bumbu2 fanatisme…
kita tunggu hasilnya aja bro, apa pihak berwajib sunguh konsisten menyelesaikan ini, tak cukup pihak berwajib, pemerintah pun turut andil…
yang bisa dilakukan hanya bersabar menerima ini…
bukankah doa orang2 teraniaya akan didengar oleh sang Khalik?
Deni Andriana
September 13th, 2010 at 11:26
betul bro.. mudah2an tidak ada provakasi kearah perpecahan.. kita tunggu hasil penyelidikannya
lovely
September 13th, 2010 at 13:15
Usut Tuntaslah, jangan omong doang..Negara ini terlalu banyak omong. Masa pencuri dan sebangsanya motifnya gituan??. akh..jangan bodohlah. Benar itu murni direncankan untuk menghalangi kebebasan beragama. Biadab!!!
samtsl
September 13th, 2010 at 16:43
polisi harus cepat menangkap dan mengusut tuntas kasus biadab tsb dan pelaku serta perencananya harus dihukum sesuai dengan hukum yg berlaku
samtsl
September 13th, 2010 at 16:47
Polisi dan pihak2 terkait harus mengusut tuntas kasus ini dan menangkap para pelaku serta orang2 yg berada dibalik tindakan keji ini
munawar am
September 15th, 2010 at 07:33
ikut prihatin, mengapa harus terjadi seperti ini?
apa memang “celurit” sudah menjadi senjata pamungkas? tidaklah tentunya, karena itu justeru tidak menyelesaikan masala, bukan?
andre
September 15th, 2010 at 08:42
bener mas, hati-hati provokasi. soalnya masalah agama adalah masalah yang sensitif di indonesia.salam kenal. menurut saya, polisi dan pemerintah harus lebih tegas mengangani masalah konflik kayak ginian
Hans
September 15th, 2010 at 09:11
Wah pa Denny Andriana mulai bereaksi berlebihan, mengatakan bahwa media dan orang yang punya hak berbicara telah berlebihan. Demokrasi, ya bebas berbicara bukan bebas membumkam orang berbicara!!!! Mungkin masih panjang perjalanan bangsa ini untuk mengerti hidup berdemokrasi.
Deni Andriana
September 15th, 2010 at 09:16
@ Hans : berbicara dalam demokrasi tidak sama dengan asal berbicara tanpa memperhatikan effek dari sebuah pekataan dan ucapan bos..
dismas not dimas
September 15th, 2010 at 17:47
turut prihatin aja bro… Mudah-mudahan ini bukan karena fanatisme… karena bakal merusak persatuan…