Gubernur Jawa Barat (Jabar), Ahmad Heryawan membuat kartu lebaran 2010 / Kartu Ucapan Idul Fitri 1431 H dengan menghabiskan biaya Rp. 1,7 Miliar. Ironisnya anggaran untuk membuat kartu lebaran ini diambil dari APBD 2010 Jawa Barat atau uang rakyat. Pada kartu tersebut, tercantum foto Sang Gubernur sedang bernarsis ria beserta kalimat ucapan selamat lebaran. Kartu ini dibuat dengan tujuan silaturahmi dengan masyarakat Jabar. Sialturahmi ala Gubernur yang tahun lalu membuat kontroversi dengan statmennya tentang ‘pelarangan’ Tari Jaipong ini.
Kartu Lebaran ini dicetak sebanyak 450 ribu lembar, akan disebarkan kepada ‘masyarakat’ melalui PT Pos Indonesia. Diantaranya disebarkan ke Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi, Forkopimda Kabupaten / Kota, Pimpinan Parpol, Ormas, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Tokoh Pemuda, Camat, Lurah / Kepala Desa, Ketua RW/RT.
Seperti yang saya baca di Poskota (Sabtu, 28 Agustus 2010), Kartu Ucapan Selamat Lebaran 2010 narsis ala Gubernur Jabar ini berbentuk kalender meja dengan ukuran 20 X 20 senitimeter, dibuat dalam tiga model. Model pertama pada muka utamanya bergambar Ahmad Heryawan menggunakan pakaian sipil lengkap (jas dasi) dan di muka kedua, tercetak kalender tahun 2011. Model kedua, pada halaman mukanya bergambar diri Heryawan menggunakan baju batik motif Trusni Cirebon dan model ketiga pada halaman mukanya bergambar Heryawan menggunakan kemeja Batik Garut. Di kedua mukanya sama tercetak kalender tahun 2011 dan ketiga foto diri Heryawan itu tanpa mengenakan peci nasional.
Itulah kelakuan Gubenur Jabar. Bagi saya pribadi sebagai Warga Jawa barat, proyek yang terkesan untuk kepentingan pribadi Sang Gubernur (politik citra) ini sangat mengecewakan. Merupakan sebuah pemborosan dan terkesan hanya proyek percetakan semata. Padahal uang itu akan lebih efektif jika misalnya digunakan untuk membantu arus mudik lebaran 2010, menyantuni fakir miskin yang masih sangat banyak di Jawa Barat, dsb.
Deni Andriana

This blog contains various articles of my personal work on my study of culture, mass media, politics, business, technology, blogging and other things that can be observed.
Ada kalanya sesuatu itu harus dipertanyakan.. ada saatnya memang harus juga diperlihatkan.. dinikmati, lalu dicermati.. setelah itu baru dinilai..

pagerank generator
August 29th, 2010 at 14:07
menyedihkan sekali, ketika rakyat tengah mengalami kesulitan akibat kenaikan harga sembako dan anak jalanan yang pada kelaparan, malah ‘pesta pora’ .. *geleng-geleng kepala*
pagerank generator
August 29th, 2010 at 14:17
komeng ane ga nongol..
intinya: sungguh , terrr, terrrlalu.. apakah ini adalah cermin dari ketidakpedulian pejabat terhadap nasib rakyat jelata yang selalu dicari saat pilkada, dan ditinggalkan setelah kursi diraih?
BANG NGANGAN
August 29th, 2010 at 14:42
kurang asem tenan je..kurang kerjaan pho mengahmbur2kan uang rakyat sa’enak edewe…
kanta subagio
August 29th, 2010 at 17:15
Wahhh..Awas Tuh Jangan2 uang dapet Korupsi lagi,Biasalah Politik pencitraan terus,Saya mah lebih suka ama Kang Dedenya Aja dah….bersahaja& lebih merakyat.
anak nelayan
August 29th, 2010 at 18:51
wah sudah kebanyakan duit ntuh gan
sawali tuhusetya
August 29th, 2010 at 22:53
bener2 berita heboh. bikin kartu lebaran aja sampai menelan biaya segede itu. akan lebih bermanfaat jika uang tersebut digunakan utk membantu rakyat yang masih membutuhkan uluran banyak tangan. pejabat sekarang kok sudah mulai kehilangan kepekaan terhadap nasib rakyatnya sendiri, yak?
boesta
September 1st, 2010 at 20:52
Benar sekali.. itu sih kampanye… untuk mengukuhkan pada pilkada selanjutnya.. uang segitu.. iya kalau uang pribadi.. seperti itu malah menimbulkan tanda taya dan kecurigaan dimasyarakat…
krozcarl
September 2nd, 2010 at 00:50
dari semenjak pemilihannya jd gubernur, ak dah ga’ suka ma dia…
badannya aj berbeda jauh ketika waktu pertama pelantikannya ama sekarang…
kayaknya prestasi jawa barat sebagai provinsi terkorup dibanding provinsi2 lain bakal terus dipertahankan…
abdul
September 6th, 2010 at 10:05
sangat menyedihkan kelakuannya, padahal orang2 di jawa barat masih ada yang miskin. Saya mengajak kepada para aktivis yang peduli rakyat (bukan mafia aktivis) saatnya untuk bergerak tumbangkan sikap pongah orang-orang yang suka menindas orang dan suka bergaya pake uang rakyat