Pada final Piala Indonesia 2010 antara Sriwijaya FC VS Arema Indonesia di Stadion Manahan Solo Jateng 1 Agustus 2010 kemarin, sebuah insiden memalukan terjadi di sepakbola nasional, tidak lain adalah permintaan Kapolda Jateng yang meminta wasit Jimmy Napitupulu diganti sehingga membuat pertandingan babak kedua tertunda hampir 1 jam karena PSSI dan panitia harus melobi Kapolda untuk memberi ijin dilangsungkannya babak kedua. Kapolda saat itu beralasan faktor keamanan. Namun untungnya, pihak PSSI dan official pertandingan termasuk Sang Wasit Jimmy meyakinkan Kapolda. Ahirnya pertandingan babak kedua dilakukan dan mengantarkan Sriwijaya FC menang 2-1 atas Arema.

Pasca pertandingan Final Piala Indonesia 2010 ini, sosok Kapolda Jateng Irjen Alex Bambang Riatmojo mendapatkan sorotan. Intervensi atau mengintervensi pertandingan itulah label yang banyak pihak termasuk para suporter tujukan pada sang Kapolda.

“Kalau wasit tidak adil, maka itu akan berpengaruh pada penonton. Lihat saja penonton sini kan sudah ramai sekali, sudah penuh. Kondisi keamanan bisa kami jamin tapi kalau wasit tidak fair, kami bisa repot. Karena itu (jalannya pertandingan) di luar kewenangan kami,” papar Alex saat itu, menitikberatkan kepada keputusan-keputusan Jimmy, termasuk kartu merahnya untuk Noh Alam Sah. (Detik.com)

Dan mari kita lihat dari kacamata yang lebih luas dan adil. Bagi saya, tindakan Kapolda itu memliki alasan. Dan alasan dari tindakannya inilah yang harus kita lihat. Dia melakukan itu karena alasan kemaanan. Dan yang membuat keamanan terganggu adalah ulah para suporter di stadion dalam hal sebagian besar adalah Suporter Arema atau Aremania yang merangsek keluar tribun mengarah ke pinggir lapangan. Secara umum, disni kita bisa simpulkan : suporter menjadi ancaman dari keamanan pertandingan sepak bola.

Maka berdasarkan latar belakang itu, saya pribadi mengajak kepada para suporter Indonesia agar mengambil pelajaran dari kejadian pada Final Piala Indonesia 2010 di Solo kemarin. Karena, kebanyakan supoter Indonesia dalam banyak kasus (tidak hanya di Solo kemarin) memang banyak terbukti tidak sportif, belum dewasa dan belum semua bisa ikut memberi kontribusi positif bagi kemajuan sepak bola Indonesia.

Khususnya kepada Aremania, seharusnya Aremania belajar banyak dari peristiwa kemarin, tindakan sejumlah Aremania yang melempari pemain di lapangan dengan botol plastik dan sampah di babak kedua adalah tindakan tidak terpuji. Terlebih mereka meninggalkan stadion setelah pertandingan usai dan Arema kalah. Sehingga ketika penyerahan piala untuk Sriwijaya  FC tribun-tribun kosong. Sebuah pemandangan yang tidak nyaman dilihat dalam sebuah partai puncak. Pertanda Aremania tidak memberikan apresiasi yang postif bagi Sriwijaya dan Sepak Bola Indonesia pada umumnya.

Dan yang lebih disesalkan adalah tindakan sejumlah oknum Aremania yang melempari warga Kediri dalam perjalanan pulang diatas kereta menuju Malang. Bagi saya, itu adalah tindakan melanggar hukum dan aparat perlu memberikan tindakan tegas pada perilaku semacam itu. Aremania sebagai suporter dari tim Juara Liga Super Indonesia harus menjadi contoh bagi suporter lainnya.

Ini adalah opini saya pribadi. Saya tujukan tidak hanya untuk Aremania tapi juga suporter-suporter lainnya. Mari hentikan mengacau dalam stadion, hentikan membuat onar di luar stadion dan marilah menjadi suporter Indonesia yang dewasa untuk sepak bola Indonesia yang lebih baik!

Deni Andriana

Komentar via Facebook