Perguruan Tinggi dan Implementasi Tri Dharma
Mendefinisikan Perguruan Tinggi Idaman, itulah tema Lomba Blog yang diselenggarakan Universitas Islam Indonesia (UII). Sebagaimana keterangan panitia, lomba ini diadakan untuk menemukan pandangan yang komprehensif mengenai perguruan tinggi yang menjadi idaman masyarakat Indonesia. Untuk itu, melalui artikel ini saya pun bermaksud berpartisipasi dalam lomba ini. Mudah-mudahan apa yang dituangkan dalam artikel ini dapat menjadi masukan untuk kemajuan perguruan tinggi khususnya yang ada di negeri ini, termasuk untuk UII sendiri yang semoga menjadi salah satu Perguruan Tinggi Favorit Indonesia.
Perguruan Tinggi dan Implementasi Tri Dharma
Perguruan tinggi terbaik di Indonesia yang diidam-idamkan secara teknis pastinya tidak terlepas dari faktor-faktor sebagai berikut : fasilitas yang lengkap, biaya kuliah yang murah, jaringan dengan perusahaan untuk menjamin lulusannya, rasio jumlah kelas / dosen dengan jumlah mahasiswa, lingkungan kampus yang kondusif, lokasi yang stategis dan nyaman, lulusannya yang sudah sukses di dunia kerja, akreditasi dan hal-hal yang bersifat materi dan dapat diliat dengan mata terbuka lainnya. Hal-hal yang juga menjadi hiasan di brosur, iklan dan promosi perguruan tinggi atau kampus yang bersangkutan. Namun bagi saya, tidak hanya itu kriterianya untuk sebuah perguruan tinggi layak disebut idaman atau tidak. Saya bahkan menempatkan faktor-faktor diatas pada urutan kedua.
Saya memandang bahwa alat ukur yang utama untuk menentukan perguruan tinggi yang layak menjadi yang difavoritkan di Indonesia adalah dari sejauh mana perguruan tinggi yang bersangkutan mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kenapa? Karena Tri Dhama Perguruan Tinggi adalah rule of the game dari perguruan tinggi itu sendiri, yang membedakannya dengan Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) bahkan dengan lembaga kursus. Jika hanya bersandar pada faktor-faktor teknis (material), maka bagi saya tidak ada bedanya antara perguruan tinggi (PT) dengan lembaga pendidikan dibawahnya.
Tri Dharma Perguruan Tinggi sendiri seperti yang diamatkan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) No.20 Tahun 2003, merupakan syarat wajib yang harus dipenuhi atau dijalankan oleh perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Dimana pada pasal 20 ayat 2 dikatakan : “Perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.” Pada pada prakteknya, apakah tiga hal ini sudah dijalankan dengan baik atau tidak semua tentunya kembali pada bagaimana kita melihatnya. Jika kita lihat dari sisi kuantitatif maka dapat dipastikan semua PT menjalankannya. Namun jika kita lihat secara kualitatif, maka fakta lain bisa kita temukan untuk kemudian memunculkan kembali pertanyaan : apakah PT di Indonesia sudah menjalankan Tri Dharma Perguruan Tingginya dengan cukup baik?
Mari kita telaah sekaligus memberikan solusi bagaimana seharusnya Tri Dharma Perguruan Tinggi tersebut dijalankan oleh perguruan tinggi, agar layak disebut sebagai perguruan tinggi idaman atau terbaik di Indonesia :
1. Pendidikan
Perguruan tinggi idaman harusnya mempunyai sistem pendidikan dan pengajaran yang up to date. Maksud dari up to date adalah, pendidikan di PT baik dari kurikulum, mata kuliah hingga cara belajar harus menyesuaikan dengan kondisi riil yang sedang berkembang di masyarakat. Misalnya, untuk mengatasi masalah pengangguran maka salah satu solusinya adalah wirausaha, artinya disini perguruan tinggi harus menyediakan porsi khusus contohnya dari mata kuliahnya yang menempa mahasiswanya untuk menyelami seluk beluk wisarusaha. Ini tidak hanya berlaku untuk fakultas ekonomi dan program studi ilmu sosial, tapi juga mesti diberikan pada mahasiswa eksak, humaniora dan sebagainya. Adapun penempaan wirausaha ini tidak hanya terbatas pada teori, namun juga membimbing mahasiswa dalam aplikasinya, salah satunya melalui tugas kuliah yang diberikan.
Lebih lanjut, dari sistem atau cara belajarnya, peguruan tinggi idaman mesti menerapkan pola atau sistem 4 arah yakni antara ilmu, dosen, mahasiswa dan realitas. Artinya, adanya eksplorasi yang mendalam terhadap ilmu dan pengetahuan yang diajarkan di kelas. Disinilah kemudian diskusi di dalam kelas menjadi penting. Mahasiswa harus dituntut untuk aktif di ruang kuliah.
Adapun terkait dengan realitas atau kita pahami sebagai kondisi riil yang ada, ilmu yang diajarkan mesti dikonfirmasikan dengan situasi yang berkembang di masyarakat, dengan begitu mahasiswa tidak menerima transfer ilmu secara mentah dari dosennya, tapi juga mendapatkan pemahaman karena dibenturkan langsung dengan kondisi dan situasi yang sedang berkembang. Effeknya nanti, diharapkan sang mahasiswa dapat menerapkan ilmu yang didapatnya dengan mudah di luar kampus.
2. Penelitian
Perguruan tinggi idaman harus memiliki database hasil penelitian dosen dan mahasiswa dalam jumlah yang banyak, minimal 50 % dari jumlah penghuni kampus. Dengan asumsi, per 2 orang melakukan 1 penelitian. Namun, ukurannya kemudian tidak hanya dari kuantitas atau jumlah penelitian semata, tapi juga dari kualitas penelitiannya. Kualitas ini, diukur dari sejauh mana proses dan hasil penelitian yang bersangkutan berguna bagi masyarakat dan lingkungan.
Disinilah kegunaan penelitian menjadi penting sebagai orientasi sebuah penelitian. Artinya kemudian, penelitian bukan hanya dilakukan untuk mengejar nilai (IPK) ataupun untuk kepentingan jabatan dan gaji untuk dosen. Khusus penelitian dari mahasiswa, penelitian tidak hanya dilakukan pada skripsi atau tugas akhir semata. Namun, sedari semester 1 hingga sementar akhir, mahasiswa diberi tugas untuk melakukan penelitian baik itu penelitian skala kecil maupun skala besar.
Penelitian disini pada hakekatnya harus dipahami sebagai sebuah upaya untuk menghasilkan solusi atas berbagai permasalahan yang ada, baik di lingkungan pendidikan maupun di luar kampus. Karena perguruan tinggi adalah center of knowledge atau pusat pengetahuan. Segala persoalan yang ada misalnya di negeri dan bangsa ini, harus bisa diselesaikan secara keilmuan oleh perguruan tinggi. Peguruan tinggi idaman adalah yang benar-benar menjadi center of knowledge!
Sedikit menyingggung fakta yang ada sekarang, kebanyakan perguruan tinggi justru malah menciptakan persoalan baru, menciptakan pengangguran dengan tingkat resistensi yang tinggi. Sarjana yang menganggur tentunya akan memiliki effek sosial dan ekonomi yang lebih tinggi daripada lulusan SMA yang menganggur. Disinilah kemudian harusnya perguruan tinggi idaman memiliki solusi terhadap masalah seperti ini. Baik solusi yang dijalankan langsung maupun yang bisa direkomendasikan pada Departeman Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan pihak-pihak terkait, solusi ini tentunya bisa hadir dari penelitian.
3. Pengabdian Kepada Masyarakat
Perguruan tinggi idaman adalah perguruan tinggi yang memberikan kontribusi positif untuk masyarakat. Pengabdian disini kemudian harus dilihat bukan hanya dari seberapa banyak perguruan tinggi yang bersangkutan melakukan bakti sosial, donor darah dan bantuan materi lainnya, tapi dari hal-hal yang lebih penting dan menjadi spesialisasinya.
Seperti yang diulas sebelumnya, pengabdian kepada masyarakat yang lebih penting adalah ikut menyelesaikan persoalan pelik yang ada di masyarakat dari mulai masalah ekonomi, sosial, penegakan hukum dan sebagainya. Perguruan tinggi selain menjadi center of knowledge juga harus bisa menempatkan diri sebagai center of social problems solutions. Dari sini kemudian istilah agen perubahan, agen inovasi dsb berfungsi dengan baik.
**
Implementasi Tri Dharma diatas menjadi alat ukur untuk menentukan perguruan tinggi layak disebut idaman atau tidak, bisa masuk kategori perguruan tinggi terbaik atau tidak. Karena alat ukur bernama Tri Dharma ini menurut dan bagi saya sangat layak dikedepankan dibanding faktor fasilitas atau hal-hal bersifat teknis dan materi lainnya. Selain karena Tri Dharma ini merupakan amanat undang-undang, juga karena fungsinya yang bisa mencetak lulusan perguruan tinggi yang berkualitas.
Ketika fungsi Tri Dharma itu dijalankan maka kualitas lulusan dari perguruan tinggi dipastikan akan lebih menjanjikan dibanding yang menjalankan Tri Dharma dengan ala kadarnya. Lulusan dari perguruan tinggi idaman (yang secara tepat mengimplementasikan Tri Dharma), saya yakin akan memiliki kualitas keilmuan yang mengakar pada realitas dan juga aplikatif. Lulusan dengan kemampuan (skill) yang bisa bersaing, inovatif dan memiliki mental serta kepekaan sosial yang baik dan tinggi.
Deni Andriana




Home

