Ini adalah puisi sederhana namun mudah-mudahan memiliki makna yang dalam untuk teman-teman resapi, jika pun memang terlalu sederhana maka biarlah puisi ini tetap menjadi puisi sebagaimana puisi itu sendiri yang tidak pernah ingin mendapatkan pengakuan, seperti halnya ramadhan yang tidak pernah menghendaki pengakuan sebagai Ramadhan dari manusia, karena Ramadhan terlalu suci untuk dilabeli manusia. Yang ingin mendapat pengakuan hanyalah para penyair atau penulis puisi itu sendiri. (Hmm.. sebenarnya nulis apa sih saya ini.. hehe)

Ya intinya hanya mencoba bikin 2 paragraf untuk mengantarkan sebuah puisi yang saya buat di bulan Ramadhan dan menjelang Lebaran atau Idul Fitri 2010 nanti. Hmm.. saya sama sekali bukan ahli dalam membuat puisi, 3-4 tahun lalu sih saya hobi nulis puisi ya setidaknya ada 4-5 buku catatan tebal berisi kumpulan puisi saya, namun seiring waktu naluri menulis puisi itu hilang, karena kebanyakan menulis artikel.

Merasa Selalu Benar

Ramadhan bulan ampunan
Menghitung dosa yang tak kunjung selesai
Karena banyaknya atau memang merasa selalu benar

Ramadhan bulan ibadah
Menghitung pahala dengan cepat
Karena sedikitnya atau memang merasa selalu benar

Ramadhan yang datang Ramadhan yang akan hilang
Seperti dosa yang datang dan pergi
Seperti mimpi yang selalu mengisi
Seperti pagi mencampakan malam
seperti aku yang merasa selalu benar

Ramadhan yang kini Ramadhan yang lalu
Diriku yang kini dan diriku yang dulu
Yang tetap selalu merasa benar
Di dalam dosa dan kebaikan…

Karawang, 22 Agustus 2010

Deni Andriana

Komentar via Facebook