Makanan atau masakan khas di Bulan puasa dan Lebaran (Hari Raya Idul Fitri), dari yang berbiaya tinggi hingga berongkos rendah dan murah meriah menjadi produk budaya massa yang telah mengakar di masyarakat. Ya itulah faktanya.  Sebagaimana Bulan Puasa Ramadhan dan Hari Raya Lebaran (Idul Fitri) yang memiliki ‘keunikan’ tersendiri ditengah masyarakat diluar level nilai ibadahnya. Keunikan yang terlahir dari kebiasaan dan budaya yang dibentuk oleh masyarakat sendiri dengan sadar atau tidak sadar.

Di Indonesia, khususnya di daerah saya di Karawang. Kolak, Sekoteng, Candil, Asinan dkk menjadi makanan-makanan yang sangat identik dengan bulan puasa khususnya saat buka puasa, untuk makanan sahur tentunya lebih beragam lagi. Begitupun ketupat, opor ayam, rendang daging kerbau/sapi, opak, ranginang, bolu, aneka kue yang identik dengan Hari Raya Idul Fitri (Lebaran). Baik itu dengan resep tradisional maupun resep masakan modern. Hebatnya, banyak orang yang memaksakan diri untuk menyediakan semua itu.

“Kasihan anak saya yang sedang belajr puasa, kalo buka hanya minum air putih!”

“Masa ada tamu saat lebaran dikasih makan teri dan ikan asin?”

Khusus untuk makanan atau masakan untuk Lebaran, bagi orang menengah keatas, membeli daging tentu bukan hal yang sulit. Tapi bagi orang berpengasilan rendah atau katakanlah miskin, membeli daging haruslah dengan penuh pertimbangan yang matang, terutama mempertimbangkan isi dompet mereka, terlebih lebaran tidak sekedar makan enak tapi juga dihantui budaya lainnya yakni ada baju baru (luar biasa kan?).

Hebatnya, banyak orang yang memaksakan diri untuk memenuhi kebiasaaan yang entah siapa yang memulainya itu. Banyak yang rela tidak berpuasa demi bekerja keras agar keluarganya saat lebaran nanti makan daging. Tidak sedikit yang utang kiri utang kanan agar ada hidangan lezat dimeja makan mereka saat Hari raya Idul Fitri.

Ya.. itulah faktanya! Sesuatu yang banyak orang ingin menepisnya, tapi karena sudah begitu mengakarnya sulit untuk dihindari, terlebih ketika gengsi sudah berada diubun-ubun.

Deni Andriana

Related Articles